Menangkal Radikalisme di Kampus Teknik

oleh

 

Dini Adni Nafastra dosen ITS

Masuknya pemahaman tentang Islam radikal di lingkungan kampus tampaknya sulit dibendung. Meski tidak masuk dalam materi resmi pendidikan kampus, namun kajian-kajian islam radikal ini terus bermunculan dan dibiarkan bebas. Nah, bagaimana menanggulanginya?

Keberadaan kampus-kampus berbasis umum yang minim pendidikan agama, menjadi ladang basah dalam syiar kelompok-kelompok tertentu untuk menggalang massa. Ironinya, kelompok-kelompok ini terkadang cenderung membawa paham di luar ajaran ahlussunnah wal jamaah.

Seperti di kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Banyak kajian-kajian yang dibentuk oleh kelompok radikal. Bahkan hal ini sudah dilakukan secara terang-terangan. Kelompok radikal banyak beranggapan kajian yang mereka lakukan tidak mungkin ada penolakan atau diusir.

Melihat fenomena ini dosen-dosen di ITS melakukan beberapa tindakan. Salah satunya adalah mengadakan mentoring keagamaan. Seperti yang dilakukan Dini Adni Nafastra dosen Departemen Informatika ITS ini. Meskipun ditunjuk sebagai satu-satunya perempuan yang menjadi dosen pembimbing, aktivitas ini sangat diteladani dengan baik.

“Ini merupakan ladang dakwah bagi saya, meskipun tidak masuk dalam organisasi berbasis agama, niat mengajar agama sudah cukup mulia,” kata Dini yang juga aktivis dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di ITS.

Dengan niat yang tulus inilah, sekretaris program keahlian PIKTI-ITS ini terus belajar mendalami agama dari sejumlah kiai atau tokoh agama. Bahkan, tak jarang dia juga mengundang sejumlah dai untuk berdakwah di kampus ITS.

Langkah yang dilakukan ini pun membuat perubahan hidup dalam dirinya akan pemahaman tentang agama. Terutama dalam pemahaman tentang Islam rahmatan lil alamin.

Karena itu, untuk menangkal paham radikalisme masuk kampus dirinya membuat gebrakan baru dengan mengubah sistem mentoring agama di kampus ITS. Salah satunya dengan menggabungkan semua kelompok mentoring menjadi satu, dan pelaksanaannya difokuskan di Masjid ITS.

“Jika biasanya setiap kelompok terdiri dari 7 sampai 10 mahasiswa, dan dipandu satu mentor. Sedangkan dosen pembina mentor akan membawahi 10 kelompok. Sekarang kita satukan semua dan langsung dibimbing oleh ustadz maupun kiai,” kata penerima Best Paper On ICACSIS International Conference.

Menurutnya, langkah ini menjadi bagian dari praktikum mata kuliah agama, di samping sebagai upaya untuk mencegah masuknya paham-paham radikalisme ke kampus. “Sekarang ini (paham radikal) mulai banyak masuk ke kampus-kampus melalui kajian-kajian di masjid. Untuk menghindari ini, mentoring dilakukan dengan lebih terbuka, seperti pengajian-pengajian di pesantren,” ulasnya.

Terkait waktu pelaksanaan, lanjut Dini, pihaknya menggelar acara pengajian agama ini setiap Senin hingga Kamis, dan digelar setelah shalat Maghrib sampai Isya’. “Materi agamanya kita siapkan buku panduannya. Karena banyak sekali kelompok-kelompok tertentu secara terbuka mengadakan kajian yang berbau radikal. Seperti akidah, ukhuwah, fiqih dan lainnya,” tutur penerima beasiswa Scholarship Awardee From Korean Government Scholarship Program (KGSP) For Master Degree.

Terkait perekrutan mentor, kata Dini, biasanya dilihat dari kemampuan mereka mengaji. “Kriteria perekrutan mentor tidak hanya harus bisa mengaji, tapi juga dilihat apakah mahasiswa tersebut memiliki keterlibatan atau tidak dengan paham radikal. Itu kita telusuri melalui proses wawancara,” katanya.

Selain perekrutan dari mahasiswa, Dini juga berharap ada tambahan dosen pembimbing perempuan yang menjadi mentor dalam kajian di bidang agama. “Sebenarnya dulu itu terpilih dua orang, saya dari informatika dan satunya dari kimia. Karena beliau sibuk, jadi saya sendiri dosen perempuannya,” kata penerima beasiswa Scholarship Awardee On Joint Research Indonesian-Japan From JICA.

Dengan basic sekolah dari jurusan umum, membuat dirinya tertantang ketika dipilihnya menjadi mentor pembimbing. Apalagi, dirinya selama ini berharap bisa meneruskan perjuangan orang tuanya yang berdakwah di dunia pendidikan melalui Ma’arif NU. “Almarhum bapak saya ini memang pejuang di NU, beliau dulu aktif di Ma’arif NU di Bangkalan dan ISNU di Sumenep,” ceritanya.

Meski menjalani sebagai mentor tidak semudah yang dibayangkan, ia mengaku tetap semangat menjalaninya. Sebab, menurutnya, perjuangan menghadang paham radikal di Indonesia harus dilakukan melalui lembaga pendidikan. “Saya berharap semua perguruan tinggi di Indonesia memperhatikan pendidikan keagamaan mahasiswanya. Selain menghindarkan mahasiswa dari paham radikal, kegiatan keagamaannya ini juga sangat diperlukan untuk memberi dasar attitude yang baik bagi calon penerus bangsa,” pungkasnya. * Diah