Musim Pemilu, LTM NU Jaga Masjid Tetap Netral

oleh
SOSIALISASI: PW LTM NU Jatim saat menggelar sosialisasi menolak kegiatan politik praktis dan radikalisme di Masjid, Selasa (2/4/2019).

SURABAYA – Berbagai cara dilakukan para politisi, maupun tim sukses pemilihan presiden (Pilpres) 2019 untuk menggalang dukungan dari masyarakat. Tidak hanya menyebar spanduk dan banner di berbagai tempat, mereka pun juga menyasar tempat ibadah menjadi lokasi untuk berkampanye.

Padahal masjid maupun mushola harus steril dari kegiatan politik praktis. Hal ini menjadi perhatian serius Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM NU) Jawa Timur dengan menggelar kegiatan bertema “Sosialisasi Menolak Kegiatan Politik di Dalam Masjid.”

Ketua LTM NU Jatim, Drs H Hizbul Wathan MM menegaskan, menolak keras kegiatan politik praktis di dalam masjid. Bahkan, pihaknya juga meminta kepada semua Masjid yang dibawah naungan LTM NU, agar menolak permintaan para politisi maupun tim sukses Pilpres memasang spanduk maupun banner di tempat ibadah.

Imbauan ini disampaikan dalam sosialisasi yang digelar LTM NU Jatim di Aula Salsabila gedung PWNU Jatim, Jl Masjid Al Akbar Timur No. 9 Surabaya, Selasa (2/4/2019). “Sebagai pengurus wilayah (LTM NU Jatim), kita tidak bisa diam begitu saja. Terutama dalam kontestasi Pemilu, masjid harus dijaga netralitasnya,” kata Hizbul.

Tidak hanya itu, tambah Hizbul, saat ini banyak kelompok-kelompok maupun aliran berpaham radikal yang mulai mencoba masuk di masjid. “Jangan (masjid dan mushola) sampai terpapar radikalisme,” terang Hizbul.

Pasalnya, saat ini banyak pihak luar yang mulai mencoba melakukan intervensi ingin mengambil alih fungsi masjid. Karenanya, untuk menjaga netralitas dan pencegahan paham radikalisme masuk ke masjid, LTM NU Jatim telah menyiapkan tiga stragegi untuk mengatasi hal itu.

“Pertama, kita menggunakan pola pengaruh. Sistem pendekatan dengan orang-orang yang memiliki nama di wilayah tersebut. Misalnya perangkat desa, atau pemilik masjid. Ajak mereka untuk memperkaya aktivitas keagamaan di masjid. Dan memilih imam atau ustadz masjid yang tidak berpotensi radikal, biasanya kalau masjid NU sudah terlihat dari shalat subuhnya,” paparnya.

Kemudian, lanjut Hizbul, adalah pola rekrutmen. “Perkuat ikatan ahlussunah wal jamaah. Caranya terus berkoordinasi dengan pengurus NU di daerah agar menyalurkan tenaga takmir masjid. Baik di desa maupun kota besar,” imbuhnya.

Terakhir, kata Hizbul, adalah kaderisasi. “NU sebagai organisasi terbesar di dunia, perlu memperkuat kaderisasi. Masjid mana saja yang berpotensi menyebarkan radikalisme, kita harus mengupayakan untuk meramaikan masjid. Dengan mengajak kader NU di daerah sekitar untuk memfilter virus-virus radikalisme,” tegasnya.

Karenanya, kata Hizbul, agenda sosialisasi seperti ini cukup penting untuk dilakukan, agar NU bisa menjadi filter bagi penyebaran ajaran Islam terutama di masjid. “Kita berharap akan ada kader-kader NU yang mau menjaga masjid, dan mengamalkan ajaran ahlusunnah wal jamaah dengan arif. Jangan sampai posisi takmir masjid dipegang oleh kelompok-kelompok garis keras yang bersifat radikal,” pungkasnya. * dia