Guru Ngaji Hasilkan Ratusan Ribu dari Daur Ulang Sampah Plastik

oleh
Salah satu bentuk kerajinan yang bernilai ekonomi tinggi dari bahan daur ulang.

JEMBER – Seorang guru ngaji di Desa Mayangan Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember, Jawa Timur berhasil mendaur ulang sampah plastik menjadi bahan yang bernilai ekonomi. Ya seperti yang dilakukan Ustadz Imam Syafi’i.

Awal mulanya, ia sangat prihatin melihat banyak sampah yang berserakan, dan baunya yang tak sedap. Itu lah yang membuatnya tergerak untuk mengumpulkan sampah tersebut, dan menyulapnya menjadi sebuah produk yang bernilai.

“Kemudian saya mencoba dari plastik sebuah bungkus kopi saset dan sabun cuci, akhirnya dikumpulkan, dipotong-potong dan dibentuk sebuah tas, ternyata hasilnya kok bagus,” ungkap Syafi’I, yang biasa mengajar ngaji di Masjid Hidayatul Munawaroh dan Pondok Pesantren Lanatut Tholibin.

Belum puas dengan hasil yang didapatkan, Syafii kemudian mencoba dengan bahan lain. Seperti bahan dari bekas minuman gelas yang dipadukan dengan tali kur, yang kemudian terbentuk sebuah tas. Hasil karyanya itu ternyata banyak diminati masyarakat, tak heran jika harga jualnya pun juga lebih tinggi dibanding produk lainnya.

Syafi’I menyebut, dalam seminggu bisa menghasilakan belasan tas yang harganyapun variatif, tergantung desain, model dan bahannya. Sebuah tas dari bahan plastik bungkus kopi dan deterjen, dibanderol mulai harga Rp 50.000 sampai RP 70.000. Sementara barang yang dihasilkan dari minuman gelas dibandrol sampai Rp 250.000.

Dari penjualannya itu, Syafi’i bisa menghidupi tiga orang karyawan. Bahkan dari kegiatan tersebut ia bisa membantu merealisasikan program Bank Sampah Nasional (BSN), sebuah program yang diluncurkan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU.

Dia berharap, ke depan kegiatan tersebut semakin banyak pihak yang mensupot, sehingga meningkatkan kualitas produksi dan bertambah tenaga kerja. Dukungan yang dimaksud adalah dengan dukungan strategi pemasaran yang baik, tidak hanya merambah ke pasar offline, tetapi juga pasar online.

“Hasil dari pembuatan tas ini bisa kita gunakan untuk pengembangan perekonomian baik di wilayah kita sendiri ataupun di wilayah lain, karena kami juga mulai masuk di toko online,” tegas Syafi’I, yang jua aktif dalam kegiatan Nahdalatul Ulama (NU) di Cabang Kencong.

Meski begitu, ia mengaku masih ada kendala ketika ingin merealisasikan banyak varian dari produksinya tersebut. Ia seringkali kehabisan bahan baku seperti atasanya gelas dan plastik, karena untuk membuat satu buah tas, membutuhkan ratusan lembar bungkus kopi atau deterjen dan botol minuman gelas. Sehingga dia juga butuh pasokan bahan dari pihak lain.

“Saya berharap ada masyarakat yang sudah punya bahan, dari pada dibuang atau dijual di rongsokan lebih baik, bisa menghubungi kami, insyaallah harganya lebih dari harga rongsokan,” tutupnya. * lin