Kepemimpinan dalam Pengejewantahan Karakter Perempuan

Lia Istifhama, Ketua III STAI Taruna Surabaya

 

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab RA bahwa dia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

  • مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ: أَنْ يَغْلِبَ عَلَى الدُّنْيَا لُكَعُ ابْنُ لُكَعٍ فَخَيْرُ النَّاسِ يَوْمَئِذٍ مُؤْمِنٌ بَيْنَ كَرِيْمَيْنِ.

Di antara tanda-tanda kiamat adalah orang-orang bodoh menguasai dunia. Maka manusia yang paling baik ketika itu adalah seorang mukmin di antara dua orang mulia.

 

Pentingnya pemimpin yang berkarakter pemimpin sejati sesuai nilai-nilai luhur Islam dan memiliki kecerdasan dalam membuat kebijakan telah dijelaskan dalam kisah-kisah inspiratif islami. Di antaranya adalah dalam hadits yang diriwayatkan Jabir ibn Abdillah RA, bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Ka’ab ibn ‘Ajrah: Semoga Allah melindunginya dari kepemimpinan orang bodoh, wahai Ka’ab. Ka’ab lantas bertanya: Apakah yang dimaksud kepemimpinan orang-orang bodoh, wahai Rasulullah? Nabi saw menjawab: Sepeninggalku nanti, akan muncul para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula mengambil sunnah-sunnahku. Barangsiapa membenarkan kedustaan mereka serta mendukung kedzaliman mereka, maka mereka itu bukan termasuk golonganku dan aku pun bukan bagian dari mereka. Mereka tidak akan dapat mendekati telagaku. Barangsiapa tidak membenarkan kedustaan mereka dan tidak memndukung kedzaliman mereka, maka mereka termasuk golonganku dan aku pun merupakan bagian dari mereka. Dan mereka akan mendapatkan bagian dari telagaku. Wahai Ka’ab ibn Ajrah, puasa adalah perisai, sedekah dapat menghapus kesalahan, dan shalat merupakan kedekatan atau petunjuk.

Saat berbicara hari kiamat, kita yang memiliki iman dan Islam, tentu akan berpikir dan bertindak kebajikan agar kiamat tidak segera datang, baik pada masa kita maupun anak, cucu, cicit kita. Untuk itu, penting kiranya turut membangun terbentuknya pemimpin-pemimpin sejati dan mencintai nilai luhur Islam.

 

Dijelaskan oleh Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah, bahwa kepemimpinan yang dapat mengatur pemerintahan (imamah) dengan baik, yaitu memiliki: (1) pengetahuan, (2) kejujuran, (3) kompetensi, dan (4) kebebasan indera dan anggota tubuh dari setiap cacat yang menganggu kepemimpinan.

 

Sedangkan dalam hemat penulis yang merupakan bagian dari perempuan yang ingin memiliki peran positif, telah merumuskan bangunan pemimpin ideal melalui indikator ‘perempuan’. Unsur kata tersebut adalah pengejawantahan dari kata: personality, empathy, responsibility, equity, motivation, positivity, universal, analytical, dan negotiating. Dengan demikian semua awal suku kata tersebut adalah perempuan.

 

Personality

Personality atau kepribadin adalah pemimpin yang mencerminkan pribadi berakhlakul karimah. Rasulullah SAW telah mencontohkan pemimpin yang uswatun hasanah melalui ciri-ciri yaitu: shiddiq (jujur); amanah (terpercaya); tabligh (menyampaikan); fathanah (cerdas). Dalam sebuah hadis, dijelaskan pentingnya kejujuran atau ketepatan bicara.

  • الْجَمَالُ صَوَابُ الْقَوْلِ بِالْحَقِّ, وَالْكَمَالُ حُسْنُ الْفِعَالِ بِالصِّدْقِ (رواه الحكيم)

Kecantikan adalah ketepatan ucapan dengan kebenaran dan kesempurnaan adalah kebaikan perbuatan dengan benar. (HR Haakim, Kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 3626).

 

Sedangkan kecerdasan adalah deskripsi dari seorang pemimpin yang juga pencari ilmu. Sebuah hadits menjelaskan pentingnya mencari ilmu sebagai bagian dari kebaikan.

الْعَلِّمُ وَالْمُتَعَلِّمُ شَرِيْكَانِ فِي الْخَيْرِ وَسَائِرُ النَّاسِ لاَخَيْرَ فِيْهِ (رواه الطبراني)

Orang yang berilmu dan orang yang belajar ilmu adalah dua sekutu dalam kebaikan, dan manusia selebihnya tiada kebaikan pada mereka. (HR Imam Thabrani, kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 5656).

 

Empathy

Empathy adalah bentuk kepedulian dan kepekaan sosial dalam menjalankan hubungan sosial atau hablum minannas. Dalam sebuah hadits dijelaskan:

  • خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيْرَانِ عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ (رواه احمد)

Sebaik-baik teman adalah sebaik-baik mereka kepada temannya. Dan sebaik-baik tetangga adalah  sebaik-baik mereka kepada tetangganya. (HR Ahmad, kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 3998).

 

Hadits tersebut menjelaskan bahwa membangun sikap baik adalah mengutamakan orang yang dekat dengan kita. Hal ini penting mengingat perkembangan jaman kadang menjadikan manusia terbelenggu dengan beragam kebiaasaan dan kepentingan sehingga mengabaikan lingkungan sosialnya sendiri. Sedangkan dalam referensi lainnya, yaitu surat An-Nisa ayat 86, dijelaskan bahwa kebaikan atau penghormatan, seyogyanya dibalas dengan hal serupa, bukan kemudian mengabaikannya.

 

  • وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.

 

Dengan begitu, kita seseorang menjadi pemimpin, alangkah mulianya untuk tetap menjaga sikap rendah hati, bukan kemudian menganggap rendah orang lain dan menganggap biasa tatkala penghormatan demi penghormatan didapatnya akibat jabatan semata. Sikap empati dalam menjalankan relasi sosial dan rendah hati, akan semakin membentuk kesempuranaan karakter pemimpin tatkala pemimpin memiliki jiwa besar untuk berkenan merangkul semua pihak, termasuk yang pernah berbuat jahat padanya.

 

  • رَأْسُ الْعَقْلِ بَعْدَ الدِّيْنِ التَّوَدُّدُ اِلَي النَّاسِ وَاصْطَنَاعُ الْخَيْرِ الَي كُلِّ بِرِّ وَفَاجِرِ (رواه البيهقي عن علي)

Pokok akal –sesudah agama– adalah berbaik-baikan kepada (sesama) manusia dan membuat kebaikan kepada semua orang yang baik dan yang jahat. (HR Baihaqi dari Ali, kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 4366).

Dari sini, sudah terlihat betapa bangunan empathy sangatlah berpengaruh membentuk pemimpin yang menyadari bahwa jabatan bukan alasan untuk menghilangkan karakter makhluk sosialnya.

 

Responsibility

Responsibility adalah pemimpin yang memiliki integritas bertanggungjawab. Tanggung jawab di sini adalah dalam banyak aspek, di mana salah satunya memiliki kemampuan manajerial. Menarik untuk ditelaah surat At taubah 122:

  • وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

 

Dalam ayat suci al-Quran tersebut, dapat dicermati bahwa manajerial skill sangat dibutuhkan pemimipin. The right man on the right place sangat penting diterapkan. Tatkala pemimpin hanya berpikir skala pendek, yaitu apa yang sedang dihadapi sekarang dan enggan berpikir dampak jangka panjang, maka tentu akibatnya adalah fatal. Secara logika, pemimpin yang manajerial skillnya rendah, tidak akan memikirkan investasi kebaikan bagi generasi penerus bangsa. Namun sebaliknya, kepentingan sesaat dikhawatirkan mengakibatkan aspek jangka panjang yang lemah atau rusak.

 

Menjalankan tanggung jawab atau amanah, bukanlah hal yang dapat dipandang remeh. Ini bukan hanya soal pentingnya manajerial skill seperti yang dijelaskan di atas. Namun juga dampak-dampak tidak baik yang sangat mungkin bisa timbul akibat pemimpin telah lupa bahwa tanggung jawab adalah beban yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

 

Abdurrahman bin Samurah berkata, Rasulullah SAW bersabda kepadaku: Wahai Abdurrahman, janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika kamu diberi jabatan karena permintaan maka tanggung jawabnya akan dibebankan kepadamu. Namun jika kamu diangkat tanpa permintaan, maka kamu akan diberi pertolongan. (HR Muslim).

 

Equity

Equity adalah sebuah keadilan. Dengan begitu, penting sekali bagi pemimpin memiliki karakter yang adil dalam bersikap dan membuat kebijakan. Dalam hadits dijelaskan:

 

  • إِنَّالْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ, وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ, الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا (رواه احمد)

Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah pada hari kiamat berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sebelah kanan Sang Maha Pengasih dan kedua tangan-Nya adalah kanan, yaitu mereka yang berbuat adil dalam pemerintahan mereka, keluarga mereka, dan apa yang mereka kuasai. (HR Ahmad, kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 2121).

Sedangkan dalam hadits lainnya, dijelaskan ‘kado’ atas keadilan.

  • طُبَي لِمَنْ تَرَكَ الْجَهْلَ وَأَتَي الْفَضْلَ وَعَمِلَ بِالْعَدْلِ (رواه أبو نعيم)

Bahagia bagi orang yang meninggalkan kebodohan, melakukan keutamaan, dan mengamalkan keadilan. (HR Abu Nu’aim, kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 5298).

 

Motivation

Motivation adalah karakter pemimpin yang mau memotivasi pada kebaikan dan juga mau dimotivasi (dinasihati) untuk tetap berada pada jalur kebaikan. Bahwa dari Abu Hurairah RA Rasulullah SAW bersabda: Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; bila ia memanggilmu penuhilah; bila dia meminta nasihat kepadamu nasihatilah; bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah; bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia antarkanlah (jenazahnya). (HR Muslim).

 

Motivasi yang baik tentunya terbentuk tatkala sifat baik dimiliki pemimpin, yaitu di antaranya adalah sikap yang mau mencari ilmu atau mencari nasihat.

 

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَ تَعَلَّمُوْا لِلْعِلْمِ السَّكِيْنَةَ وَالْوَقَارَ وَتَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَعَلَّمُوْنَ مِنْهُ (رواه الطبراني)

Pelajarilah ilmu, dan pelajarilah untuk ilmu ketenangan dan sopan santun, dan berendah hatilah kamu kepada orang yang kamju belajar daripadanya. (HR Imam Thabrani, kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 3322).

 

Positivity

Positivity adalah karakter pemimpin yang mengedapankan pemikiran positif atau positive thinking. Dalam sebuah hadits dijelaskan:

 

  • حُسْنُ الظَّنِّ مِنْ حُسْنِ الْعِبَادَةِ (رواه ابو داود)

Baik sangka adalah termasuk ibadah yang bagus. (HR Abu Dawud, kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 3722).

 

Menjaga pemikiran positif adalah karakter pemimpin yang sekaligus menjaga dirinya sebagai ahli kebaikan:

  • اِنَّ أَهْلَ الْمَعْرُوْفِ فِي الدُّنْيَا هُمْ أهْلُ الْمَعْرُوْفِ فِي الْآخِرَةِ وَاِنَّ اَوَّلَ الْجَنَّةِ دُخُوْلًا هُمْ أَهْلُ الْمَعْرُوْفِ (رواه الطبرانى)

Sesungguhnya ahli kebaikan di dunia mereka adalah kebaikan di akhir, dan sesungguhnya ahli sorga yang pertama masuk adalah mereka yang ahli kebaikan. (HR Imam Thabrani, kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 2245).

 

Sikap baik dan positif tentunya dapat tercermin dalam perilaku pemimpin yang memiliki rasa maklum (pengertian) atas kesalahan orang lain bahkan memiliki kemudahan dalam memafu atau memaafkan.

  • الْعَفُوْ أَحَقُّ مَا عُمِلَ بِهِ (رواه البيهقي عن علي)

Memaafkan adalah yang paling hak (benar) dikerjakan. (HR Baihaqi dari Ali, kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 5696)

 

Universal

Universal adalah karakter pemimpin yang mampu beradaptasi dan memahami keseluruhan perkembangan situasi. Dengan kata lain, melihat segala hal secara holistik sehingga tidak terjebak dalam keputusan yang sesat akibat pemikiran yang sesaat. Salah satu indikatornya adalah membangun sikap obyektif dan menjalankan tabayyun (mencari informasi utuh dengan bertanya kepada pihak lainnya). Dalam Surat Al Hujurat ayat 6 dijelaskan:

 

  • يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

 

Pemimpin yang universal bukan semata menunjukkan karakter pemimpin cerdas, melainkan juga pemimpin yang sesuai kaidah Islam, bahwa al-islaamu shalihun li kulli zaman wa al-makan.

 

  • رَخِمَ اللّٰهُ مَنْ حَفِظَ لِسَانَهُ وَعَرَفَ زَمَانَهُ وَاسْتَقَامَتْ طَرِيْقَتُهُ (رواه الديلمي عن ابن عباس)

Semoga Allah memberikan rahmat kepada orang yang memelihara lidahnya, mengenali zamannya, dan lurus jalannya. (HR Dailami dari Ibnu Abbas, kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 4440).

 

Analytical

Analytical adalah karakter pemimpin yang memiliki kemampuan menaganalisa strategi. Oleh Harry R Yarger, strategi berbicara tentang bagaimana sesuatu hal (keputusan) memberikan dampak di masa depan (all strategy is about the future. The future is where strategy has its effect). Strategi juga bentuk pemikiran tentang hal besar, not about reductionism, yaitu bukan tentang pengurangan sesuatu hal (pencapaian) yang telah dicapai. Ditambahkan juga, bahwa strategi adalah ‘how to think’, not ‘what to think’. Dengan begitu, saat kekuasaan didapat, maka seyogyanya pemimpin tidak menjadikan power sebagai akhir keinginannya, karena power is a means, not an end. Power adalah sarana untuk membangun yang lebih baik bagi kelangsungan suatu bangsa (suistanability), bukan akhir dari ambisinya.

 

Itulah sebabnya, penting sekali pemimpin harus banyak berpikir dalam membuat analisa. Dalam hadits, dijelaskan keutamaan dari berpikir: Berpikir sesaat adalah lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun. (HR Imam Thabrani, kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 5656).

 

Negotiating

Negotiating adalah kemampuan bernegosiasi atau berkomunikasi. Tentunya, keahlian ini tak lepas dari pentingnya ilmu yang dimiliki pemimpin. Semakin tinggi ilmu, tentu semakin jarang pemimpin terjebak dalam debat yang tidak berfaedah. Dijelaskan dalam kitab Fikih Sunnah Sayyid Sabiq No 18:

 

  • إِنَّاللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ, وإِضَا عَةَالْمالِ.

Sesungguhnya Allah membenci banyak debat, banyak tanya dan menyia-nyiakan harta.

 

Selain keahlian menghindari debat, keahlian bernegosiasi tampak tatkala pemimpin mampu menahan amarahnya:

  • عَلِّمُوْا وَيَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا وَإِذَا غَضِبَ أَحَدَكُمْ فَلْيَسْكُتْ (رواه البخاري)

Ajarilah, permudahlah, dan jangan kamu persulit, dan gembirakanlah dan jangan kamu membuat tidak senang, dan apabila salah seorang kamu marah maka hendaklah ia diam. (HR Bukhari, kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 5480).

 

Dengan demikian, tuntas pula 9 indikator dalam unsur kata ‘Perempuan’ yang sangat penting untuk dimiliki oleh pemimpin masa kini.

 

Akhir kata, marilah kita renungkan lebih dalam makna: syubbanul yaum rijaalul ghad, bahwa pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Dan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar mengatakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka.

 

 

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Berita Terkait

TERPOPULER

TERBARU

AMTV CHANNEL

AULA CHANNEL

AMTV Live
BolaMakanBola
Aulanews
E-Harian