Ahmad Zayadi: Ibadah Kurban untuk Solidaritas Kemanusiaan


SURABAYA — Meskipun tahun ini ibadah haji diselenggarakan dengan jamaah yang sangat terbatas karena Pandemi Covid 19 yang melanda hampir diseluruh negara di dunia, namun tidak menghilangkan keagungan dan kesucian Idul Adha 1441 H.

“Pada tanggal 9 Dzulhijjah mereka berkumpul di arofah untuk menjalani wukuf, dan hari ini berada di jamarot untuk melempar jumroh al’aqabah. Ini adalah simbol menundukkan ego dan melawan sifat-sifat syaithaniyah dan hayawaniyah yang ada dalam diri setiap manusia,” kata Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur H Ahmad Zayadi.

Zayadi mengatakan dengan spirit ketundukan dan kepatuhan akan kebesaran-Nya, umat Islam di seluruh penjuru menggemakan takbir dan tahmid yang menggetarkan kalbu. Idul Adha merupakan hari raya bersejarah untuk mengenang kembali peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim As atas putranya, Ismail As melalui mimpinya untuk mengorbankan anaknya yang sangat dicintainya itu.
“Nabi Ibrahim AS menghadapi dua pilihan: mengikuti dorongan perasaan dengan menyelamatkan Ismail atau mentaati perintah Allah SWT dengan totalitas ketundukan,” ungkap Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur ini.

Atas dasar mentaati perintah Allah, mereka rela mengorbankan apapun yang dimilikinya demi ketaqwaan menjalankan perintah Allah SWT. Untuk itu, hari raya Idul Adha seharusnya dijadikan momentum untuk memupuk rasa solidaritas yang mampu mewujudkan kesejahteraan social yang berkeadilan.

Hasil riset Elizabeth Dunn, pakar psikologi social dari University of British Colombia, Vancouver, Kanada, menyimpulkan bahwa semakin besar uang atau harta yang dibelanjakan untuk menolong sesama atau semakin besar uang atau harta yang dibelanjakan untuk menolong sesama atau kepentingan orang lain terbukti menambah kebahagiaannya sebagaimana dimuat dalam jurnal SCIENCE (2008) dengan judul tulisan yang mengejutkan: “Spending Money on Others Promotes Happines” (Membelanjakan Uang untuk orang lain meningkatkan kebahagiaan).

“Temuan ilmiah tersebut menunjukkan bahwa yang terpenting bukanlah jumlah uang yang kita miliki, tetapi bagaimana kita membelanjakannya. Orang yang menyedekahkan uang atau hartanya untuk membantu mereka yang membutuhkan, ternyata lebih bahagia daripada mereka yang menghamburkan uang untuk kepuasan diri sendiri,” tegasnya.

Logika terbalik yang sering terjadi justru mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi demi mengejar kebahagiaan semu. Momentum Idul Adha yang menekankan prinsip solidaritas dan soliditas publik jika benarbenar dijadikan landasan untuk membangun negeri dapat dimulai saat ini.

“Pada saat kita semua bahu-membahu, bergotong royong dalam ikhtiar bersama menanggulangi wabah corona seberat apapun problem yang dihadapi oleh Negara ini, dengan modal semangat pengorbanan dan solidaritas kemanusiaan, niscaya berbagai masalah akan teratasi. Sebab, rakyat dan para pemimpinnya merasa “berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing”. Langkah ini juga akan mengikis sikap mementingkan diri sendiri dan mencintai harta (hubbub al-dunya) secara berlebihan,” jelasnya.

Di akhir khutbah Zayadi mengatakan Ibadah kurban mempunyai dua nilai: kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Kesalehan spiritual dalam hal ini adalah penyerahan diri kepada Allah dang mengekang egoisme, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim As.

“Kesalehan sosial tercermin dari semangat rela berkorban, seperti dalam diri Ismail As Sikap ini penting untuk diteladani, terumata bagi generasi muda Indonesia,” tuturnya. Rofi’i Boenawi


Editor :Rofi'i