Harlah ke 98 NU, Canangkan Program Satu Abad


Surabaya, AULA

Nahdlatul Ulama kini berusia 98 tahun, usia yang cukup matang dan banyak mengalami dinamika dalam perjalanannya. 16 Rajab 1442 H genap usia NU ke 98 tahun. Dalam malam puncak resepsi Hari Lahir (Harlah) PWNU Jawa Timur meluncurkan program menuju satu abad.

 

KH Abdussalam Shohib Ketua Panitia Harlah ke 98 NU meluncurkan program unggulan dalam menyamput satu abad NU. “Terhitung sejak hari ini satu abad NU akan kita tembuh dalam waktu 709 hari, pertepatan dengan 16 Rajab 1444 H, atau 7 Februari 2023,” kata Gus Salam saat ditemui setelah acara (28/2).

 

Pengasuh Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang ini mengatakan cita-cita besar mewujudkan satu abad Nahdaltul Ulama dengan tiga program unggulan 100 studio dakwah digital, 100 BMT dan 100 rumah sakit dan klinik NU. “Program ini akan menjadi prioritas PWNU Jawa Timur menuju satu abad NU,” tuturnya.

 

Sedangkan KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jawa Timur mengatakan, di usia NU yang sudah menuju satu abad, para Nahdliyin harus tetap konsisten menjaga kewajiban-kewajiban sebagai manusia yang beragama. Khususnya menjaga tiang-tiang Ahlusunnah wal Jama’ah.

 

“Dalam rangka Harlah NU ke-98 saya berpesan kepada diri saya sendiri dan keluarga, serta kepada seluruh warga NU Jawa Timur untuk menjaga agama, shalatnya diistikamahkan, pastikan kita, keluarga kita menjaga shalat. Pastikan kita, keluarga kita terbiasa membaca Al-Qur’an,” kata kiai yang juga pengasuh Pesantren Sabilul Rosyad Gasek Malang ini.

 

Kiai Marzuki menambahkan, sebagai organisasi NU yang berpegang teguh kepada Ahlusunnah wal Jamaah, tentu harus menjaga dan tetap konsisten agar memastikan, agama, akidah, dan lain sebagainya tetap dilaksnaakan sesuai panduannya.

 

“Dan NU sebagai tugas pokok adalah memastikan agama ini aman, akidah aman, dan amaliah-amaliah Ahlusunnah wal Jamaah pastikan berjalan dengan baik di lingkungan masing-masing,” tambahnya, Ahad (28/02/2021).

 

Kiai Marzuki menuturkan, jika akidah dan pemahaman bertolak belakang dengan asas NU yang berpotensi akan menimbulkan kehancuran atau kerusakan agar tidak menjadi pengurus di tempat-tempat ibadah.

“Seluruh pengurus NU mulai tingkat dari anak ranting, ranting, dan yang lain-lain. Pastikan jangan ada masjid atau musala NU yang takmiri, dikhutbai, diimami, oleh orang yang akidahnya dan pahamnya bertentangan dengan Ahlusunnah wal Jamaah atau wawasan berbangsa dan benegaranya bisa mengancam membahayakan NKRI,” tuturnya.

 

Kesuksesan NU ketika semua amalan-amalan yang berlandasakan Al-Qur’an dan Al-Hadis, lebih tepatnya tetap merujuk kepada Ahlusunnah wal Jamaah dapat dilaksanakan dengan baik dan dinamis.

 

“Pastikan di lingkungan kita masing-masing tahlilan tetap jalan, manakib tetap jalan, shalawatan tetap jalan, diseluruh di Jawa Timur, rumah-rumah tetap ada tahlilan. Masjid dan musala tetap dibiasakan tiang-tiang NU. Ketika semua itu dilakukan, berarti NU sukses sebagai jam’iyah diniyah,” pungkasnya.


Editor :Rofi'i