Dua Madin di Bojonegoro Terapkan Metode Follow The Line


Bojonegoro, AULA – Dua Madrasah Diniayah (Madin) di Bojonegoro memiliki cara tersendiri dalam kegiatan belajar mengajar, khususnya dalam masa pandemi. Seperti pada Madrasah Diniyah Mambaul Ulum dan Miftahul Hidayah di desa Ngampal Kecamatan Sumberrejo. Keduanya menerapkan metode Follow The Line, yakni menulis dengan mengikuti garis yang telah ditentukan. Metode ini digagas dalam aplikasi Maghrib Mengaji.

Ika Wahyuni sebagai salah satu guru ngaji di Bojonegoro memaparkan, dengan metode dirinya bisa mengajarkan kepada santri. Bahwa dalam setiap penulisan Al Quran ada aturan-aturan yang harus terpenuhi. Kemudian secara otomatis santri bisa mempelajarinya secara langsung melalui apa yang sudah ditulis.

“Saya menilai metode tersebut sangat efektif di terapkan di lingkungan santri. Terutam  saat situasi pandemi seperti ini, karena menggabungkan 3 metode menjadi satu yaitu metode menulis, membaca dan menghapal, kemudian di terapkan melalui aplikasi dan bisa di pantau langsung oleh guru dan wali santri jadi bisa meminimalisir pembelajaran tatap muka,”kata Ustadzah Ika Wahyuni, Guru di Madrasah Diniyah Mambaul Ulum.

Menurut Ika, metode ini sangat membantu santri Madin dalam proses belajar mengajar khususnya di situasi pandemi seperti ini.  Lebih lanjut, Ika Wahyuni mengajak Madin lain untuk bisa mengikutinya. “Kedepanya mungkin beberapa madin bisa mencoba menggunakan metode ini,” tambahnya.

Upaya yang dilakukan dua Madin itupun mendapat apresiasi dari Forum Silaturrahmi Santri (Forsis) Bojonegoro. Bagi Ika kegiatan ini harus terus dilakukan, apalagi sudah ada apresiasi yang diberikan. Ini akan menambah semangat dari para guru untuk terus kreatif.

“Tentunya itu inovasi yang sangat bagus dalam dunia pendidikan seperti Madrasah Diniyah harus selalu berinovasi dalam metode pembelajaran untuk santri dalam kondisi pandemi seperti ini ,” ujar Khasan Saifullah ketua Forsis Bojonegoro.

Khasan Saifullah berharap agar inovasi tersebut mendapat respon baik serta dukungan pihak dinas terkait. Dengan tidak mengurangi niat dalam mengajar. Guru juga perlu diberi dukungan oleh pihak pemerintah. Tentunya kegiatan ini menjadi contoh bagi sekolah dan madrasah diniyah lainya di Bojonegoro.

“Seharusnya dinas terkait perlu mencoba inovasi ini, agar santri lebih maksimal dalam pembelajaran,” pungkasnya. (mon/sh)


Editor :Diah Rengganis