Memaknai Tantangan Media di Era Digital


Surabaya, AULA – Peringatan Harlah Virtual Nahdlatul Ulama (HAVANA) yang digelar oleh Aula Media NU berlangsung hari ini, Sabtu 13 Februari 2021 di ruang Salsabila Kantor PWNU Jatim.

Diawali dengan podcast forum pimred, dengan tema “peran aula dalam mengawal NU dari masa ke masa” acara tersebut berlangsung menarik, karena masing-masing pimpinan menceritakan pengalamannya semasa menjabat pimred pada zamannya.

AULA sebagai media cetak di bawah naungan PWNU Jatim selalu mendukung, mengawal perberitaan terkait NU dari masa ke masa.

Dalam forum tersebut juga dibahas tantangan media NU di era digital. AULA yang identik dengan media cetaknya yaitu majalah, kini mengalami tantangan yang luar biasa.

Di era digital ini, majalah AULA tetap memberikan konten yang menarik dan berkualitas. Konten-konten terkait NU itu ditulis secara mendalam.

“Saya memiliki gambaran bahwa majalah aula versi cetak itu adalah suatu yang enak dibaca kapan saja. Sehingga format tulisan tidak lagi straigh news tapi ke features. Tulisan yang berbentuk human interest,” kata Syaifullah, Pimpinan Majalah AULA.

Moch. Subhan menambahkan, untuk menyongsong era digital saat ini, media cetak seperti majalah AULA tetap harus dipertahankan. di samping, juga mempersiapkan versi digital.

“Selain majalah, kita juga punya bundel.
Dulu AULA dikelola oleh PWNU Jatim sekarang sudah PT. Dulu yang awalnya buletin, kemudian majalah, sekarang menyongsong era digital sudah disiapkan, ada Aula Media Televisi (AMTV), Aula Channel. Jadi, yang lama dipertahankan, yang baru disiapkan,” tutur Pimred Majalah AULA sejak tahun 2008-2014.

Dari berbagai tantangan itu, AULA Media kini telah mengembangkan sebuah media digital berupa Youtube yang dipimpin langsung oleh Pimret Aula Media Televisi (AMTV), Riadi Ngasiran.

Riadi menyampaikan, perubahan era digital bisa diterima oleh semua kalangan, terutama kalangan yang berperan di NU untuk mengembangkan dakwahnya.

“Saya selalu berprinsip memelihara nilai lama menerima nilai baru. Saya kira perubahan dunia maya, atau digital ini bagian terpenting yang harus kita maknai. Bagaimana dakwah kita diisi dengan konten-konten di media digital,” ungkapnya.

Menurutnya, dokumentasi majalah sangatlah penting. Tetapi era dari perubahan digital harus dimaknai dengan tepat. Salah satu langkah yang dilakukan oleh Aula Digital adalah menambah jaringan, kerjasama dengan Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU.

“Saya selalu mengingatkan teman-teman di NU khususnya yang bergerak di media massa. Media massa sekarang ini tidak hanya cetak dan televisi, sekarang merambah di wilayah digital itulah, bagaimana kita memaknai konten yang memiliki nilai-nilai Ahlussunah Wal Jamaah,” tambahnya.

Momentum ini sudah tepat, AULA Media dengan banyak betuk platfomnya akan semakin maju jika terus berusaha melawan tantangan zaman saat ini.

Menurutnya, media cetak seperti majalah tidak perlu berpikir mana yang terlalu penting, begitu pula media sosial yang dikembangkan, semua mempunyai jejak, mempunyai makna.

Namun yang perlu dihadapi di era digital saat ini adalah sampah-sampah yang bertebaran di media sosial. Sampah yang dimaksud adalah fitnah pada kiai-kiai NU, fitnah pada dakwah ahlussunah.

“Saya kira dengan tv analog, media digital dan lainnya yang kita rambah selama ini menjadi bagian penting untuk mengkonter dan mengisi di otak-otak kita. Sehingga tidak semua informasi menjadi sampah. Semua informasi akan menjadi nilai, di situ bagian terpenting, unjungnya idzul Islam wal muslimun bahwa kita melalui nahdlatul ulama,” tutupnya. Ln


Editor :lina