Memasuki Usia 41 tahun, Ini Pesan Pendiri Majalah Aula


Surabaya – Media kebanggaan NU, Majalah Aula memasuki usia ke 41 tahun. Diharapkan para pegiat yang ada di dalamnya menjadikan momentum tersebut sebagai sarana menonjolkan kembali semangat dakwah dan perjuangan.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan salah seorang pendiri Majalah Aula, H Wahis Asa, Kamis (24/1). Kegiatan dipusatkan di mushalla Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Nahdlatul Ulama, jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya.

“Melalui Majalah Aula, kita bisa berkarya sekaligus berdakwah lewat tulisan dan bisa berkontribusi kepada Nahdlatul Ulama,” kata Pak Wahid, sapaan akrabnya.

Diakuinya, beberapa tulisan yang sudah terbit menjadi bacaan yang menarik.  “Bahkan Profesor Saifuddin Zuhri adalah pembaca setia Majalah Aula,” ungkap pria yang selama 36 tahun mengurus Majalah Aula ini.

“Ketika menulis, saya tidak pernah batal dari wudhu. Karena dengan berwudhu, saya menulis dari lubuk hati. Dan saya berkeyakinan dengan wudhu, pembaca akan tertarik dengan tulisan saya,” jelasnya.

Pak Wahid menyampaikan, tidak hanya dirinya yang ikut merawat Majalah Aula. Tetapi ada beberapa orang yang ikut andil, seperti KH Syarkowi yang saat itu menjadi Rais PWNU Jatim.

Demikian pula H Anas Thohir yang ikut merintis sejak Majalah Aula berdiri. “Tidak hanya itu, Kiai Hasym Muzadi dan Kiai Sholeh Hayat juga ikut mendirikan majalah ini,” kenangnya.

Dirinya juga bercerita bahwa cikal bakal Majalah Aula adalah dari Buletin Wilayah Nahdlatul Ulama atau Buwilnu. Setelah mulai ajeg terbit, akhirnya berubah menjadi Majalah Aula sebagai tempat berkumpulan untuk sharing pengalaman dan menulis.

Mantan Wakil Ketua PWNU Jatim ini berharap di ulang tahun ini, idealisme Majalah Aula yakni sebagai media dakwah terus dijalankan. “Jangan sampai idealisme itu hilang,” pesannya.

Sementara H Echwan Siswadi selaku Direktur PT Aula Media Nahdlatul Ulama mengatakan pentingnya mengenal pendiri dan sesepuh para kiai yang sudah berkontribusi di NU, khususnya Majalah Aula.

Ia juga mengimbau kepada seluruh karyawan supaya mengenal para pendiri media ini.  “Melalui sarasehan bersama pendiri di ulang tahun majalah Aula yang ke 41, diharapkan tidak ada lagi yang bertanya siapa pendiri Majalah Aula. Karena barakah itu ada pada pendiri dan sesepuh,” tandasnya.

Kegiatan diawali dengan pembacaan surat Yasin dan tahlil, dan dipungkasi pemotongan tumpeng. (Lina/Syaifullah)


Editor :syaifullah