Meriahkan Harlah NU, Lesbumi Jatim Gelar Festival Seni Budaya Mataraman


SERIUS: Pengurus Lesmbumi Jatim berbincang-bincang dengan Ketua Umum PP Lesbumi NU, H Agoes Sunyoto jelang Bedah Buku “Sejarah Gajah Mada” di Salsabila PWNU Jatim, Selasa (26/3/2019).

SURABAYA – Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-96 Nahdlatul Ulama (NU) diperingati dengan beragam kegiatan. Beberapa Badan Otonom (Banom) dan lembaga NU juga ikut memeriahkan kegiatan harlah. Salah satunya diperlihatkan Pengurus Wilayah Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur.

Dalam rangkaian Harlah ke-96 NU kali ini, PW Lesbumi NU Jatim menggelar berbagai kegiatan, di antaranya diskusi, seminar, talkshow hingga festival seni dan budaya. Seperti halnya yang akan digelar Selasa (26/3/2019) siang ini, PW Lesbumi NU Jatim menggelar Bedah Buku “Sejarah Gajah Mada” karya Ketua Umum PP Lesbumi NU, K NG H Agoes Sunyoto.

“Hari ini kita menggelar bedah buku karya Ketua Umum PP Lesbumi, H Agoes Sunyoto. Acara di buka untuk umum, di ruang Salsabila Gedung PWNU Jatim, Jl Masjid Al Akbar Timur No.9 Surabaya, pukul 13.00 WIB,” terang Ketua PW Lesbumi NU Jatim, Nonot Sukrasmono, kepada AULA, Selasa (26/3/2019).

Selain bedah buku, Ki Nonot sapaan akrabnya juga menjelaskan, beberapa kegiatan yang akan digelar Lesbumi Jatim, dan gebyarnya akan digelar di Alun-alun Mejayan Kabupaten Madiun Jawa Timur, Sabtu, 30 Maret 2019.

Koordinator Bidang Musik Lesbumi Jatim, Ahmad Nur Huda menambahkan, di alun-alun Madiun nanti, akan banyak penampilan seni khas masing-masing daerah di wilayah Mataraman. Seperti Dongkrek Madiun, Shalawatan Tiban asal Kediri, Tari Sufi dari Ngawi, Kidung Budaya Santri Tulungagung, Orkestra Muslim Madiun dan pameran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Se Kabupaten Madiun.

“Beberapa tokoh NU Jatim, dan pejabat pemerintah dijadwalkan hadir,” kata Gus Mamak sapaan akrabnya.

Gus Mamak menjelaskan, petinggi NU Jatim seperti Wakil Rais Syuriah KH Agoes Ali Masyhuri, Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar, Bupati dan Wakil Bupati Madiun, Ketua DPRD, dan Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). “Madiun menjadi lokasi pertama kalinya di gelar Festival Seni Budaya Muslim Indonesia karena sebagai pusat perdaban Mataraman,” tuturnya.

“Posisi Lesbumi kan sebagai wadah seni budaya muslim. Untuk itu melalui Festival ini kita membentuk elaborasi dengan budaya lokal. Nah mengapa Madiun yang kita pilih? Karena Madiun itu pusat perdaban mataraman, posisi budayanya juga masih kental,” pungkasnya. * lin


Editor :Mohammad Nasir