PAC GP Ansor Rajadesa Membentuk Komunitas Bikers Ziarohan


Jabar, AULA- Dalam upaya menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah, Pengurus Anak Cabang (PAC) GP Ansor  Rajadesa Kabupaten Ciamis Jawa Barat membentuk komunitas bikers ziarohan. Komunitas ini memiliki agenda berziarah dengan menggunakan motor ke beberapa situs atau tempat yang dikeramatkan. Termasuk dengan makam leluhur, seperti keturunan raja, waliyullah, ulama, dan orang saleh.

Kegiatan pertama dilakukan pada Rabu 6 Januari 2021,  dan akan berlanjut ke tempat-tempat lain baik di Kabupaten Ciamis hingga ke seluruh wilayah Jawa Barat. Jika sudah bisa dilakukan secara rutin. Ketua PAC GP Ansor Rajadesa H Usep Saepuloh akan memperbesar ruang lingkup komunitas hingga ke wilayah lain.

“Kami berziarah ke situs Gunungmarapi di Desa Rajadesa, dimana ada makam Syeh Danuwarsih, makam keramat Syeh Danuwarsih yang juga merupakan kakek dari Syekh syarif Hidayatullah atau yang dikenal Sunan Gunung Jati, beliau merupakan orang pertama yang mempunyai sejarah besar dalam penyebaran Agama Islam di wilayah Kecamatan Rajadesa,”ungkap Saepuloh.

Sebelumnya, Saepuloh bersama dengan pengurus PAC GP Ansor juga berziarah ke makam-makam ulama lain. Diantaranya Makam KH. Nuruzzein pendiri Pesantren Cikanyere, KH. Muhammad Abdulloh pendiri pesantren Cinangka, KH. Abdulloh Sambas Sesepuh NU Rajadesa dan KH. Ahmad Apandi pendiri pesantren Cikolam.

Nama Komunitas bikers ziarohan diambil dari perspektif kepariwisataan. Bagi Saepuloh nama ini memenuhi unsur pelesir, mikir, dzikir. Satu sisi menjadi tempat rekreasi (pelsiran), mencakup mikir karena memiliki nilai edukasi sejarah, dan dzikir dimana tempat tersebut biasa digunakan berdzikir oleh para peziarah.

‌Dari sisi edukasi, kita dapat mengetahui sejarah situs tersebut, lalu siapa saja tokoh yang dimakamkan di situs itu. Disisi lain komunitas bikers ziarohan bertujuan merangsang masyarakat dan pemerintah setempat agar peduli terhadap situs-situs bersejarah.

“Kami mendorong pihak pemerintah setempat  menjadikan situs sejarah atau keramat tersebut menjadi lokasi cagar budaya, yang nantinya bisa dijadikan aset dan  pariwisata desa yang bisa menghidupkan ekonomi masyarakat sekitar. “pungkas H. Usep Saepuloh. Diah/Nursoleh

 

 


Editor :Diah Rengganis