Pak Untung S Rajab, Polisi yang Istimewa Menurut Penulis Antologi NU


Innalillahi wainna ilaihi rojiun.

Pertama kali saya mendapat kabar beliau wafat pukul 00:30 dini hari tadi dari grup WA MWC NU Waru. Berita itu dikirim oleh Pak Zainul Abidin alias Joko Samudero, Kepala Desa Berbek, Waru, Sidoarjo. Lalu saya doakan almarhum dengan harapan yang baik-baik. Sebab saya yakin beliau memang orang baik dan akan mendapatkan fasilitas yang menyenangkan dari Allah SWT.

Nama Pak Untung S Rajab memang melekat di hati saya karena beliau adalah salah satu orang yang saya kagumi. Dulu ketika saya menyusun buku Antologi NU dan memasukkan profil KH Hamim Djazuli (Gus Miek) ke dalamnya, salah satu narasumbernya juga beliau, karena semua orang tahu beliau orang dekat Gus Miek. Tentu akan bisa bercerita secara detil tentang guru spiritualnya tersebut.

Saya pernah dua kali datang ke pondok tahfidznya di Wonoayu yang dinamai Padepokan Untung S Radjab itu. Di sana semua santri digratiskan. Setiap Jumat mereka diajak ke rumah Pak Untung di Gayungan. Khataman Al-Quran. Di sana mereka akan makan makanan yang sama dengan yang dimakan oleh tuan rumah.

BARESKRIM

Sekitar tahun 2007 saya ke Jakarta. Rupanya posisi saya dekat dengan Bareskrim Mabes Polri. Sekitar pukul 19:00 saya telepon Pak Untung tenyata masih di kantor. Saya ke sana dengan seorang teman dari Jakarta. Teman ini menunggu di penjagaan, lalu saya masuk sendirian.

“Sama siapa?”

“Sendirian”

Lalu kami ngobrol ke sana ke mari.

Saya lihat ruangannya sederhana. Tapi ada yang terlihat istimewa bagi saya, yaitu sajadah yang sudah tertata menghadap kiblat. Terlihat rutin dipakai oleh tuan rumah.

Dari sekian banyak obrolan itu ada dua point penting yang saya ingat. Pertama, Pak Untung minta saya menilai tentang dirinya; dan kedua, saya melantarkan mantan Kapolres yang sedang ‘terlantar’ di Humas Mabes Polri.

Soal penilaian pada beliau, saya sampaikan apa adanya bahwa beliau orang baik, hebat lahir-batin. Tidak heran kalau Gus Miek memanggilnya Syekh. Kok tahu? Ngukurnya gampang saja. Seorang perwira tinggi Polri, bertugas di reserse yang sangat banyak godaan, tapi bisa menjadi orang alim. Berarti kan benar-benar hebat. Bukankah kualitas diri seseorang itu diukur dari tingkat godaannya? Ujian anak SMA tentu akan jauh lebih sulit daripada ujian anak SD.

Saya bandingkan dengan diri saya yang berada dalam komunitas orang baik-baik saja kadang masih ingin melenceng dari garis. Saya gak bisa bayangkan andai saya diberi ujian seperti pada posisi beliau. Sepertinya sih tidak kuat.

Nah, pembicaraan saya kedua tentang melantarkan temannya teman yang sedang pindah di bidang Humas. Kabar yang saya dengan sih dia banyak menganggur di sana. Tidak ada pekerjaan penting. Istilahnya hanya ‘ngguntingi koran’ setiap pagi. Bandingkan dengan kesibukannya sebagai Kapolres.

Orang ini tidak minta bantuan kepada saya. Tapi saya sampaikan pada Pak Untung semata karena kasihan saja.

Tapi apa respon beliau?

Ternyata beliau menanggapi santai saja. Bahkan sambil guyonan.

“Kasihan, di sini tidak ada pekerjaan. Masak AKBP kerjanya hanya mengguntingi koran?” pancing saya.

Tapi Pak Untung bersikap santai saja. Lontaran saya dengan nada memelas itu malah dijawab dengan bahasa Suroboyoan.

“Lho, lak enak lo gak kerjo tapi dibayar? Orang di luar sana cari pekerjaan sulit. Tidak kerja ya tidak ada yang membayar. Mestinya dia malah bersyukur, gak kerja tapi dibayari rutin,” jawabnya enteng.

Waduh, sekak mati ini. Mau bilang apa saya?

Lalu saya cari alasan lain. “Tapi kasihan, dia di sini sendirian, sedangkan anak dan istrinya masih di Surabaya..”

Kali ini Pak Untung juga santai saja.

“Lha sampean delok anak bojoku nang endi? Anak bojoku nang Suroboyo, aku nang kene yo ijenan. Gak masalah.”

Waduh, benar juga. “Pinter orang ini,” gumam saya dalam hati.

Tak lama kemudian saya mohon pamit dengan alasan ditunggu teman di penjagaan.

“Lhooo, jare maeng ijenan?”

“Iya, dari Surabayanya sendirian.”

Menjelang pulang saya diberi kartu nama. Saya lihat, lhoo ya mesti ae pintar. Jenderal bintang satu, doktor, Drs, SH, MSi.

Beberapa bulan kemudian ternyata temannya teman tadi bisa pindah ke tempat sesuai yang diinginkan, yaitu Polda Jawa Timur. Dan saya sudah tidak pernah bertemu lagi dengannya hingga sekarang.

KALIMANTAN SELATAN

Tahun 2009 saya menjadi anggota Panwaslu Kabupaten Sidoarjo. Saat itu Kapolres Sidoarjo Pak Iqbal, Kapolwil Surabaya Pak Ronny F Sompie, dan Kapolda Pak Anton Bachrul Alam. Sedangkan Pak Untung menjabat Kapolda Kalimantan Selatan menggantikan Pak Anton Bachrul Alam.

Suatu ketika ada Rakernas Panwaslu beberapa propinsi ditempatkan di Banjarmasin Kalsel. Salah satu narasumbernya Komisioner KPK M Yasin. Saya cari informasi, ternyata hotel tempat acara tersebut dekat dengan Mapolda Kalsel.

Usai acara sekitar pukul 11 siang. Saya telepon Pak Kapolda Untung S Radjab. Diangkat ajudan. Ternyata dipersilakan datang. Saya naik becak berdua dengan Nugroho, teman sesama Panwaslu Sidoarjo.

Setelah bertemu kami bincang-bincang ringan. Ya, setengah basa-basilah.

Saat itu di Mapolda Jawa Timur sedang ramai berita Pak Kapolda yang suka blusukan ke masjid-masjid. Datang menjelang subuh, pakai sorban dan gamis, iktikaf, lalu shalat berjamaah.

Lalu hal itu saya tanyakan pada Pak Untung:

“Nanti di sini meneruskan program Pak Anton, datang ke masjid-masjid?” pancing saya.

Rupanya saya salah duga. Pak Untung menanggapinya dengan nada tinggi.

“Apa? Kalau ada anak buahku yang begitu, iktikaf di masjid tiga hari meninggalkan anak istrinya di rumah, tambah tak sel!” ujarnya dengan nada tinggi.

Saya kaget.

“Lha sopo sing kate ngeloni bojone nang omah?” sambung Pak Untung dengan nada guyonan.

Akhirnya saya sadar, antara Pak Anton dan Pak Untung memang beda jalur. Sama-sama orang baik, tapi beda gaya. Pak Anton suka mendatangi tempat-tempat bersih seperti masjid, sedangkan Pak Untung lebih suka ke tempat-tempat yang disebut orang kotor seperti tempat karaoke, klub malam, dlsb. Persis Gus Miek, sang guru utamanya.

 

Oleh: M. Subhan (Penulis Buku Antologi NU dan Ketua LTN PCNU Kab Sidoarjo)

 


Editor :Rofi'i